This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 12 Februari 2019

macam-macam sujud

macam-macam sujud

Sajdah (Bahasa Arab: سجدة) atau sujud (Bahasa Arab: سجود) merupakan kata Arab yang dapat disamaartikan dengan perbuatan menempatkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung kaki pada kondisi serentak di lantai dengan tujuan tertentu karena Allah pada waktu dan saat-saat tertentu. Ketika sujud, Muslim diwajibkan membaca bacaan tertentu dalam perbuatannya itu.
Definisi sujud ini bisa disejajarkan dengan kewajiban bersujud yang telah diperintahkan Allah dan RasulNya. Sabda Rasullullah s.a.w. yang berarti:
Aku diperintah (oleh Allah) bahwa aku sujud di atas tujuh anggota, di atas dahi dan diisyarat dengan tangannya di atas hidungnya, dan dua tangan dan dua lutut dan perut-perut anak jari dua kaki. (Hadis Muttafaqun Alaih)

macam-macam sujud ada tigau yaitu;

1.)Sujud Syukur

Sujud syukur ini mengandung arti sujud yang dilakukan oleh seseorang yang tengah mendapatkan sebuah keberuntungan atau keberhasilan yang  dicapainya atas karunia yang telah diberikan Allah swt. sehingga membuat dirinya sangat senang. atau ketika seseorang tersebut telah diselamatkan oleh Allah swt. atas bahaya yang bisa menimpa dirinya.
Contohnya: ketika seseorang tersebut mendapatkan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya, baik itu berupa nilai yang bagus setelah melakukan ujian, atau ketika penyakit yang dideritanya telah sembuh. Atau ketika seseorang tersebut selamat dari ancaman bahaya yang bisa saja menimpa dirinya.

Hukum Sujud Syukur

Hukum melakukan sujud syukur ini adalah sunnah. Artinya, lebih baik jika orang tersebut melakukannya. Meskipun sunnah orang tersebut haruslah berusaha untuk memanfaatkan nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt. dengan sebaik-baiknya. Sujud syukur ini bisa dilakukan di mana saja, selama tempat tersebut suci dan bersih.
Dalam al-Qur’an  surat Ibrahim (14) ayat 7 juga dijelaskan mengenai betapa kita harus senantiasa bersyukur. Karena dengan demikian bisa melatih diri kita untuk senantiasa bersyukur setiap hari:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
Nabi saw. sendiri juga bersujud ketika beliau mendengar kabar atau sesuatu yang membuat dirinya gembira. Seperti yang diriwaytkan dalam sebuah hadits:
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ «إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ»
Dari Abu Bakrah r.a, dari Nabi saw.: “Apabila datang kepada nabi saw. Kabar yang menggembirakan atau yang membahagiakan, beliau langsung bersujud untuk berterima kasih kepada Allah swt. (HR Abu Dawud)

Syarat – Syarat Sujud Syukur

Dalam melakukan sujud syukur ini minimal kita juga harus tahu tentang apa saja syarat-syarat dalam sujud syukur tersebut. Berikut syarat-syarat seseorang ketika melakukan sujud syukur:
1. Utamakan dalam kondisi suci terlebih dahulu. Baik badan, pakaian maupun tempatnya.
2. Menutup aurat dan
3. Usahakan untuk menghadap Kiblat

Cara Melakukan Sujud Syukur

Untuk melakukan sujud syukur, minimal seseorang juga harus bagaimana tata cara sujud syukur tersebut. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut:
1. Niat untuk sujud syukur terlebih dahulu
2. Membaca takbiratul ihram (seperti ketika sedang melakukan shalat)
3. Kemudian bersujud  dan  membaca tasbih seperti ketika shalat. Atau bisa juga dengan bacaan berikut:
سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ
4. Setelah itu duduk lagi (seperti duduk tahiyyat akhir), dilanjutkan dengan salam
Demikianlah penjelasan singkat mengenai pengertian, hukum, syarat dan tatacara melaksanakan sujud syukur. Setelah mempelajari  sujud syukur ini, maka akan dilanjutkan dengan sujud sahwi dan tilawah

2.)Sujud Sahwi

Lafadz sahwi (sahwun) menurut Kamus bahasa Arab mempunyai arti lupa, lalai, atau bisa juga lengah. Sedangkan menurut istilah adalah adanya sesuatu (baik itu bacaan, gerakan) yang terlupakan ketika melaksanakan shalat.
Artinya sujud sahwi ini dilakukan ketika ada seseorang yang sedang berada dalam kondisi shalat kemudian ada yang dilupakannya. Hal ini bisa diakibatkan karena kurangnya konsentrasi sehingga membuat dirinya lupa atau lalai, atau memang adanya keterbatasan dalam berkonsentrasi.
Sujud ini dilakukan ketika seseorang sedang melakukan ibadah shalat. Lalu, orang tersebut lupa atau ragu atas bacaan, gerakan atau jumlah rakaat shalat yang sedang dilaksanakannya.
Nah, dalam hal inilah seseorang diberi kesempatan untuk melakukan sujud sahwi. Hukum sujud sahwi adalah sunnah. Meski demikian, alangkah pantasnya untuk dikerjakan.

Sebab – Sebab Melakukan Sujud Sahwi

Sujud sahwi yang dilakukan ketika shalat ini tentunya ada sebabnya pula. yakni sebagai berikut:
  1. Lupa atau ragu akan jumlah rakaat yang tengah dilakukan ketika shalat.
  2. Lupa dalam melakukan sunnah ab’adh tasyahud atau tahiyyatul awal
  3. Lupa membaca do’a qunut (bagi seseorang yang meyakininya)
  4. Lupa menempatkan bacaan shalat (rukun qauli)  yang bukan pada tempatnya. Seperti: membaca surat al-Fatihah ketika dalam posisi sujud)
  5. Lupa dalam melakukan jumlah gerakan shalat (rukun fi’li) sehingga menjadi kurang atau berlebih dalam melakukannya. Seperti: ruku’ dilakukan dua kali, sujud dilakukan hanya sekali.
Berbicara mengenai sujud sahwi ini, ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang sujud sahwi tersebut. Diantaranya adalah sebagai berikut ini:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ , ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَان
Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “ Apabila diantara kamu sekalian mengalami ragu dalam melaksanakan shalatya, yakni tidak tahu berapa rakaat ia melaksanakan shalat tiga atau empat rakaatkah, hendaklah ia hilangkan keraguan itu, dan teruskanlah shalatnya itu menurut rakaat yang diyakininya. Kemudian bersujudlah dua kali sebelum salam. Adapun jika ada yang telah shalat lima rakaat, maka hal itu telah menggenapkan shalatnya. Dan jika ada yang telah shalat dengan sempurna sebanyak empat rakaat, maka yang demikian itu adalah menjadi penghampa bagi setan (HR. Abu Dawud)

Cara Melakukan Sujud Sahwi

Karena sujud ini dilakukan ketika seseorang sedang melaksanakan shalat. Maka, cara melakukannya adalah sebagai  berikut:
1.    Setelah membaca tahiyyat akhir jangan salam lebih dulu, bersujudlah kembali dengan membaca takbir.
2.    Dilanjutkan dengan membaca tasbih, sebagai berikut:
سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو  
“MahaSuci Allah Dzat Yang Tidak Tidur dan Dzat Yang Tidak Lupa”
3.    Kemudian takbir untuk duduk kembali seraya membaca doa duduk diantara dua sujud
4.    Kemudian sujud kembali, dan membaca bacaan seperti yang dilakukan dengan sujud sahwi yang pertama
5.    Kemudian duduk kembali, dilanjutkan dengan salam

3.)Sujud Tilawah

Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan seseorang ketika sedang membaca atau mendengar bacaan al-Qur’an, yang mana pada ayat al-Qur’an tersebut terdapat ayat sajdah. Baik ketika shalat maupun di luar shalat.

Hukum Sujud Tilawah

Hukum melakukan sujud tilawah ini adalah sunnah. Artinya, alangkah baiknya untuk melakukan sujud ini, meskipun tidak ada hukum wajib untuk sujud ini.
Perlu diketahui pula bahwa ketika kita sedang shalat berjama’ah, lalu ketika imam sampai pada ayat sajdah ini, dan imam melakukan sujud tilawah maka ma’mum yang mengikutinya pun juga harus ikut sujud. Tetapi ketika imam membaca ayat sajdah, namun tidak sujud, maka makmum tidak dibolehkan untuk melakukan sujud.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ «إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ
Dari Ibnu ‘Umar r.a, sesungguhnya Nabi saw. suatu saat beliau pernah membaca al-Qur’an di depan kami, maka ketika beliau sampai pada ayat sajdah, beliau takbir dan bersujud, dan kamipun ikut bersujud bersama beliau” (HR. Abu Dawud)

Letak Ayat – Ayat Sajdah

Dalam al-Qur’an terdapat sebanyak 15 ayat sajdah. Nah, ketika seseorang membaca atau mendengar ayat sajdah inilah disunnahkan melakukan sujud tilawah. Adapun  ayat-ayat sajdah tersebut terletak dalam surat dan ayat berikut ini :
  1. QS. Al-A’raf (7): 206
  2. QS. Ar-Ra’d (13): 15
  3. QS. An-Nahl (16): 49
  4. QS. Al-Isra’ (17): 107
  5. QS. Maryam (19): 58
  6. QS. Al-Hajj (22): 18
  7. QS. Al-Hajj (22): 77
  8. QS. Al-Furqan (25): 60
  9. QS. An-Naml (27): 25
  10. QS. As-Sajdah (32): 15
  11. QS. Shaad (38): 24
  12. QS. Fusshilat (41): 37
  13. QS. An-Najm (53): 62
  14. QS. Al-Insyiqaaq (84): 21
  15. QS. Al-‘Alaq (96): 19

Syarat Sujud Tilawah

Syarat-syarat sujud tilawah ini sama seperti ketika seseorang melakukan sujud syukur, yaitu:
  1. Suci dari segala kotoran dan najis. Baik badan, pakaian maupun tempatnya.
  2. Menutupi aurat dan
  3. Menghadap ke arah Kiblat

Tata Cara Melaksanakan Sujud Tilawah

Tata cara dalam melakukan sujud tilawah ini juga sama dengan melakukan sujud syukur, yaitu:
1.    Berniat terlebih dahulu
2.    Dilanjutkan dengan membaca takbir
3.    Kemudian bersujud satu kali. Adapun bacaan yang dibaca ketika sujud tilawah ini hampir mirip dengan bacaan sujud syukur, yaitu:
سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ 
“ aku bersujud kepada Dzat (Allah swt.) yang telah menciptakanku dan membentukku dan yang telah membukakan pendengaranku dan penglihatanku dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya. Maha Yang Memberkahi  Allah Dzat Yang Maha Sebaik-Baiknya Pencipta.”
4.    Kemudian duduk dan diakhiri dengan salam
hikmah sujud syukur, sahwi, tilawah
  1. Dengan sujud syukur kita senantiasa mendapatkan tambahan rezki dari Allah dan dijauhkan dari adzab atau siksa Allah swt
  2.  Dengan sujud Sahwi, kita senantiasa menyadari bahwa manusia tempat lalai/lupa dan sebaik-baik orang yang lalai adalah yang mau menyadari kesalahannya dan mau memperbaikinya karena hanyalah Allah yang tidak pernah lupa.
  3.  Dengan sujud tilawah, diharapkan kita senantaisa tunduk dan tawaddu’ (rendah hati) terhadap Allah maupun sesama manusia, dan kita dijauhkan dari sifat sombong seperti sombongnya Qorun dan Raja Fir’aun. 

shalat sunnah berjamaah dan munfarid

shalat sunnah berjamaah dan munfarid

Shalat Sunnah adalah shalat yang dikerjakan di luar shalat yang di fardhukan. Shalat sunnah apabila dikerjakan mendapat pahala, tetapi bila tidak dikerjakan tidak berdosa. Shalat Sunnah dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan untuk mendapatkan tambahan pahala.

shalat shunnah itu di bagi dua yaitu;

shalat sunnah berjamaah

Shalat sunah berjama’ah adalah salat yang dikerjakan secara bersama sama sama sepert kita mengerjakan sholat wajib di mana salah satu menjadi imam dan yang lain menjadi makmum dengan syarat yang telah ditentukan.
Shalat sunnah berjamaah adalah shalat Idain, Shalat Tarawih, Shalat Witir, Shalat Istisqa’ (minta hujan), shalat Gerhana Matahari (Kusuf) dan shalat Gerhana Bulan (Khusuf)
Adapun contoh Shalat Sunnah Berjamaah
1.    Shalat ‘Idain.      
Idain artinya dua hari raya. Yang dimaksud shalat Idain adalah shalat pada    waktu dua  hari raya yakni  Hari Raya Idul fitri (1 syawal) dan Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah).
Adapun hukum melaksanakannya adalah sunah muakkad yaitu sunnah yang sangat dianjurkan.

2.    Shalat Tarawih
Shalat tarawih adalah shalat sunah yang dilaksanakan khusus pada malam ‎hari bulan Ramadhan. Shalat tarawih merupakan amalan sunah pada bulan ‎Ramadhan di samping ibadah-ibadah lain seperti memperbanyak tadarus Al ‎Quran, berzikir, berdoa, mendalami ilmu agama dengan mengikuti pesantren kilat, ‎dan sebagainya. Kegiatan tersebut bertujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada ‎Allah SWT
Hukum Shalat Tarawih. Hukum melaksanakannya adalah sunah muakkad

3.    Shalat Witir
Witir artinya ganjil. Shalat Witir artinya shalat sunah yang dikerjakan pada malam hari setelah shalat Isya’ dengan bilangan rakaatnya ganjil baik di bulan Ramadan maupun diluar bulan Ramadan.

4.    Shalat Istisqa’ adalah shalat sunnah 2 rakaat yang dilakukan untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.
Shalat Istisqa’ hukumnya sunnah  muakkad (sangat ditekankan) ketika terjadi musim kering, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan hal tersebut

shalat sunnah munfarid

Salat munfarid. Salat munfarid adalah salat yang dikerjakan dengan cara sendirinya
Berikut contoh shalat sunah Munfarid : 

1. Shalat Sunah Tahiyatul Masjid
Shalat Tahiyatul Masjid adalah shalat sunah yang dilaksanakan ketika seseorang memasuki masjid. Hukum melaksanakannya adalah sunah, dikerjakan 2 rakaat sebelum duduk dengan tujuan menghormati (memuliakan) masjid.

2. Shalat Sunah Tahajud.
Tahajud berarti bangun dari tidur pada malam hari. Jadi shalat Tahajud adalah shalat sunah yang dikerjakan pada malam hari setelah shalat Isya’ sampai menjelang waktu Subuh. Lebih utama dikerjakan sepertiga malam yang terakhir (kira-kira jam 02.00 dini hari). Hukum melaksanakan shalat Tahajjud adalah sunnah muakkad. Jumlah rakaatnya paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak tak terbatas

3. Shalat Sunah Istikharah
Shalat Istikharah artinya shalat sunah dua rakaat dengan maksud mohon petunjuk  dari Allah SWT dalam menentukan pilihan terbaik diantara dua pilihan atau lebih. Hukum melaksanakannya adalah sunah dikerjakan pada waktu siang atau malam, pagi atau sore dengan 2 rakaat. 

4. Shalat Sunah Dhuha
Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dilaksanakan pada pagi sampai siang hari. Dari setelah matahari agak tinggi sampai sebelum masuk waktu dzuhur. Waktu terbaik adalah dengan mengakhirkan sampai waktu agak siang (panas). Kira-kira antara jam 8 sampai jam 10. Hukum salat Duha adalah sunnah muakkad. Jumlah rakaatnya paling sedikit dua, rakaat dan paling banyak dua belas rakaat, yang paling utama delapan rakaat

5. Shalat Sunah Tasbih
Shalat tasbih adalah shalat sunnah 4 (empat) rakaat yang banyak mengandung ucapan tasbih (subhanallah) di setiap gerakannya. Shalat Sunnah Tasbih adalah shalat sunnat empat raka’at yang di dalamnya ada bacaan tasbih sebanyak 300 kali dan setiap raka’atnya ada bacaan tasbih sebanyak 75 kali, yang dikerjakan paling tidak minimal sekali seumur hidup. Tetapi jika mampu boleh mengerjakannya setahun sekali, sebulan sekali, seminggu sekali atau setiap malam sekali.

6. Shalat Sunah Rawatib
Shalat Sunnah Rowatib adalah shalat sunah yang waktu pelaksanaannya  mengiringi shalat fardu lima waktu. Shalat tersebut dilakukan sebelum atau sesudah shalat fardu. Sholat Sunat Rawatib yang dikerjakan sebelum sholat fardu disebut rawatib qobliyah, sedangkan Sholat Sunat Rawatib yang dikerjakan sebelum sholat wajib disebut rawatib bakdiyah.

           7. Shalat Sunah Hajat
Shalat Hajat adalah shalat sunah yang dilakukan karena ada suatu hajat atau keperluan, baik keperluan duniawi atau keperluan ukhrawi agar hajat dikabulkan Allah. 


           8. Shalat Sunah Mutlak
Shalat Mutlak adalah shalat sunnah yang boleh dikerjakan pada waktu kapan saja, kecuali pada waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat sunah dengan jumlah rakaat yang tidak terbatas. Niat shalat mutlak tidak terikat dengan niat tertentu selain ikhlas hanya karena ibadah kepada Allah SWT. Shalat sunah mutlak dikerjakan tiap-tiap dua raka’at dengan satu kali salam. 

dalil shalat sunnah

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ اْلإِسْـلاَمِ، فَقَالَ: (خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ). فَقَالَ الرَّجُلُ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ؟ قَالَ: (لاَ، إِلاَّ أَنْ تَطَوَّعَ).
“Bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang (kewajiban-kewajiban) dalam Islam, lalu beliau menjawab, ‘(Melaksanakan) shalat lima waktu dalam sehari semalam.’ Orang itu bertanya lagi, ‘Adakah kewajiban lain atas diriku?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada, kecuali engkau mengerjakan shalat sunnah.
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِـهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ اَلصَّلاَةُ، قَالَ: يَقُوْلُ رَبُّنَا -جَلَّ وَعَزَّ- لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ: اُنْظُرُوْا فِيْ صَلاَةِ عَبْدِيْ، أَتَمَّهَا أَوْ نَقَصَهَا، فَإِنْ كَانَتْ تَامَّـةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ كاَنَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا، قَالَ: اُنْظُرُوْا هَلْ لِعَـبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كاَنَ لَهُ تَطَوُّعٌ، قَالَ: أَتِمُّوْا لِعَبْدِيْ فَرِيْضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ تُؤْخَذُ اْلأَعْمَالُ عَلَى ذَلِكَ.
“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali akan dihisab kelak pada hari Kiamat adalah shalatnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Allah جَلَّ وَعَزَّ berfirman kepada para Malaikat-Nya, sedangkan Ia lebih mengetahui, ‘Lihatlah shalat hamba-Ku, sudahkah ia melaksanakannya dengan sempurna ataukah terdapat kekurangan?’ Bila ibadahnya telah sempurna maka ditulis untuknya pahala yang sempurna pula. Namun bila ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman, ‘Lihatlah apakah hambaku memiliki shalat sunnah?’ Bila ia memiliki shalat sunnah, maka Allah berfirman, ‘Sempurnakanlah untuk hamba-Ku dari kekurangannya itu dengan shalat sunnahnya.’ Demikianlah semua ibadah akan menjalani proses yang serupa.
hikmah mengerjakan shalat sunnah
I. Mendatangkan Keberkahan di Rumah

Mengerjakan shalat sunnah di rumah akan mendatangkan keberkahan. Berbeda dengan shalat fardhu, shalat sunnah lebih utama dikerjakan di rumah masing masing kecuali shalat shalat sunnah yang memang disyaratkan untuk
dikerjakan secara berjamaah di masjid.

Driwayaikn dan zad bin Ra, Rasululah Saw
bersabda

"Wahai sekalian manusia, kerjakanlah shalat(sunnah) di rumah sekalian, sebab shalat yang paling utama adalah shalat seseorang yang dikerjakan di rumahnya, kecuali shalat fardu." (HR.al-Bukhari)
yang dikenakan di rumahnya, kecuali shalat fardhu. (HR. al-
Bukhari)


2. Mendatangkan Kecintaan dari Allah swt

Allah swt akan mencintai mereka yang mengerjakan amalan- amalan sunnah (nawafil), termasuk shalat-shalat sunnah.
ingin a."(HR al-Bukhar)


3. Meninggikan Derajat Seorang Mukmin

Shalat adalah amalan yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Rasulullah saw bersabda,
"Istiqamahlah kamu semua, janganlah kamu menghitung-hitungnya, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amal-amalmu adalah shalat."
(HR. Ibnu Majah)

Amalan shalat sunnah juga merupakan ibadah yang dapat meninggikan derajat seseorang serta menghapus dosa-dosanya yang lalu.


4. Menutupi Kekurangan Shalat Fardhu

Sungguh sulit bagi kita untuk mengerjakan ibadah teramat
fardhu secara sempurna. Adalah hal yanglumrah terjadi apabila kita mengerjakan shalat fardhu, maka akan banyak ditemukan kekurangan di sana sini, seperti tidak khusyuk, bacaan ayat-ayat Al Quran yang kurang dan kesalahan kesalahan yang lainnya
tepat  Dari snilah maka shalat shalat sunnah berfungsi untuk menutupi segala kekurangan yang mungkin terjadi ketika mengerjakan shalat fardhu ini.


5. Shalat Sunnah sebagai Sarana Doa dan Permohonan

Sesungguhnya manusia dengan upaya dan kekuatannya adalah lemah dan hanya dengan kekuatan Allah-lah ia menjadi kuat. Setiap manusia membutuhkan pertolongan Allah swt agar sukses dalam melaksanakan tugas-tugasnya di bumi ini. Dan tekun melaksanakan ibadah fardhu dan sunnah sehari-han adalah cara untuk mendapatkan pertolongan Allah.


6. Shalat Sunnah Menyebabkan Ketenangan

Amalan ibadah sehari-hari merupakan penyebab ketenangan hati dan kedamaian jiwa. Allah swt berfirman.
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah, hati merasa tenang."(QS. ar-Ra'd: 28)


makna beriman kepada nabi dan rasul allah SWT

makna beriman nabi dan kepada rasul allah SWT

Makna beriman kepada Rasul Allah adalah meyakini dengan sebenar-benarnya yakin bahwa ALLAH telah turunkan 124.000 nabi dan rasul di dunia ini.

Dalil kewajiban beriman kepada rasul

ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآأُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya,” dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada Engkaulah tempat kembali”. [Al Baqarah:285].
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada RasulNya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [An Nisaa’:136].
Jumlah nabi dan rasul sangatlah banyak. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa jumlah rasul adalah 313. Sementara jumlah nabi adalah 124.000. Namun, nama-nama nabi dan rasul yang wajib diketahui berjumlah 25 orang, sebagai berikut yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang terakhir untuk seluruh umat sepanjang masa, yaitu :
1. Nabi Adan AS
2. Nabi Idris AS
3. Nabi Nuh AS
4. Nabi Hud AS
5. Nabi Shaleh AS
6. Nabi Ibrahin AS
7. Nabi Luth AS
8. Nabi Ismail AS
9. Nabi Ishaq AS
10. Nabi Yaqub AS
11. Nabi Yusuf AS
12. Nabi Ayub AS
13. Nabi Zulkifli AS
14. Nabi Syu’aib AS
15. Nabi Yunus AS
16. Nabi Musa AS
17. Nabi Harun AS
18. Nabi Daun AS
19. Nabi Sulaiman AS
20. Nabi Ilyas AS
21. Nabi Ilyasa AS
22. Nabi Zakaria AS
23. Nabi Yahya AS
24. Nabi Isa AS
25. Nabi Muhammad SAW



Rasul yang Bergelar Ulul Azmi

Di antara 25 nama nabi dan rasul tersebut, terdapat 5 orang rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi. Yang dikatakan Ulul Azmi yaitu rasul yang memiliki keteguhan dan kesabaran yang luar biasa dalam menerima ujian dari Allah SWT saat menjalankan dakwah kenabiannya. Kelima rasul yang mendapatkan gelar Ulul Azmi tersebut adalah:
1. Nabi Nuh AS
2. Nabi Ibrahim AS
3. Nabi Musa AS
4. Nabi Isa AS
5. Nabi Muhammad SAW

Rasul yang Menerima Kitab Suci

Selain julukan Ulul Azmi, di antara kelima rasul tersebut terdapat 4 orang rasul yang menerima kitab suci dari Allah SWT, dan Al-Qur’an sebagai kitab suci sepanjang masa. Adapun para rasul yang menerima kitab suci yaitu:

1. Nabi Musa AS (Kitab Suci Taurat)
2. Nabi Daud AS (Kitab Suci Zabur)
3. Nabi Isa AS (Kitab Suci Injil)
4. Nabi Muhammad SAW (Kitab Suci Al-Qur’an)

Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Rasul

Seperti yang dikatakan diatas, bahwa Nabi dan Rasul mempunyai sifat wajib dan sifat mustahilnya. Hal tersebut tidak lain karena memang sudah kehendak dari Allah SWT. Semua tidak lain agar Nabi dan Rasul bisa menjadi suri tauladan bagi kita.

Sifat wajib bagi Nabi dan Rasul

Sifat wajib bagi Nabi dan Rasul ada 4, yakni:

Sidiq – Sifat ini berarti jujur atau benar, artinya nabi dan Rasul dijaga oleh Allah SWT kejujurannya dan kebenarannya. Jadi tidak pernah ingkar apapun yang dikatakan oleh Nabi dan Rasul kepada umatnya karena mereka adalah laki-laki pilihan Allah SWT.

Amanah – Sifat ini artinya dapat dipercaya, seperti yang dikatakan diatas bahwa Nabi dan Rasul tidak pernah ingkar maupun berdusta. Nabi dan Rasul selalu bisa dipercaya untuk melaksanakan apapun yang diperintahkan oleh Allah SWT kepadanya.

Tabligh – Sifat ini artinya meyampaikan, jadi memang tugas utama mereka adalah menyampaikan pesan-pesan Allah SWT atau menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada umat mereka.

Fathonah – Sifat wajib yang satu ini artinya cerdas, Nabi dan Rasul diberi kecerdasan oleh Allah SWT agar mereka mampu memerangi kaum yang tidak berada dijalan Allah SWT dan mengajaknya untuk berada dijalan yang benar, yakni jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Sifat mustahil bagi Rasul

Kalau diatas adalah sifat wajib bagi Nabi dan Rasul, berikut ada sifat yang mustahil ada pada Nabi dan Rasul.

Kidzib – Sifat ini artinya dusta atau bohong, hal yang sangat tidak mungkin yang dimiliki oleh Nabi dan Rasul. Mereka terjaga dari sifat tersebut.

Khianat – Sifat ini artinya tidak dapat dipercaya, Nabi dan Rasul adalah laki-laki yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan atau menyebarkan agama Allah SWT kepada umat manusia. Sangat tidak mungkin apabila mereka mempunyai sifat yang khianat.

Kitman – Sifat ini artinya menyembunyikan, seperti yang dikatakan diatas bahwa Nabi dan Rasul adalah seseorang yang dipilih Allah SWT untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada umat manusia, sangat tidak mungkin jika mereka mempunyai sifat tersebut.

Baladah – Sifat ini artinya bodoh, jika sudah diterangkan bahwa Nabi dan Rasul adalah laki-laki pilihan Allah SWT, maka sangat tidak mungkin Allah memilih pilihan yang bodoh.

hikmah beriman kepada rasul

  • Mengeluarkan manusia dari kebiasaan menyembah Tuhan selain Allah.
  • Sebagai suri tauladan yang baik untuk manusia
  • Untuk menegakkan hujjah atas manusia dengan mengutus para rasul, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah Allah.
  • Menjelaskan kepada manusia mengenai masalah ghaib yang tidak bisa dicapai oleh akal. (seperti nama-nama dan sifat Allah, berita tentang hari kiamat, dan lainnya).
  • Memperbaiki, membersihkan, mensucikan jiwa manusia, memperingatkan dari hal yang bisa merusak nya.

Fungsi beriman Kepada Rasul

  • Menambah keimanan kepada Allah dengan mengetahui bahwa rasul benar-benar manusia pilihan Allah.
  • Mempercayai  tugas yang dibawa oleh Rasul untuk disampaikan kepada umatnya.
  • Lebih menghormati dan mencintai rasul karena perjuangan nya.
  • Memperoleh suri teladan yang baik untuk pedoman hidup.
  • Ingin mengamalkan apa yang disampaikan oleh Rasul Allah.

Selasa, 29 Januari 2019

makna beriman kepada Kitab-kitab Allah

makna beriman kepada Kitab-kitab Allah

       Makna beriman kepada kitab-kitab Allah SWT yaitu kepercayaan yang pasti bahwasanya Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasulnya untuk disampaikan kepada para hamba-Nya. Kitab-kitab tersebut adalah Kalamullah atau perkataan allah SWT. Dalam kitab-kitab tersebut terdapat petunjuk untuk manusia.

Allah SWT telah berfirman pada surat an-nisa ayat 196;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدً
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Allah SWT telah menurunkan 4 kitab yaitu;


1.     Kitab Taurat : Kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa AS sebagai pedoman hidup Bani Israil seperti Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 2 yang berbunyi : “Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu sebagai petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman) : janganlah kamu mengambil penolong selain aku”.
Adapun isi pokok kitab Taurat dikenal dengan “Sepuluh Perintah Tuhan” yaitu, jangan ada padamu Tuhan lain di hadirat-Ku, jangan membuat patung ukiran dan jangan pula menyembah patung karena Aku Tuhan Allahmu, jangan kamu menyebut Tuhan Allahmu dengan sia-sia, ingatlah kamu akan hari Sabat (Sabtu) supaya kamu sucikan dia, Berilah hormat kepada bapak ibumu, Jangan membunuh sesama Manusia, Larangan berbuat Zina, Larangan mencuri, Larangan menjadi saksi palsu, Larangan berkeinginan memiliki hak orang lain.

2.     Kitab Zabur : kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud AS untuk dijadikan pedoman hidup bagi kaumnya. Firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 55 yang berbunyi : “Dan Tuhan-Mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah kami lebihkan sebagian Nabi-Nabi itu atas sebagian (yang lain), dan kami berikan Zabur kepada Daud”.
Kitab Zabur berisi kumpulan Nyanyian-nyanyian pujian kepada Allah SWT atas segala nikmat Ilahi. Di dalamnya juga berisi Dzikir, doa, Nasihat, dan hikmah. Menurut orang-orang Yahudi dan Nasrani, kitab Zabur sekarang ada pada Perjanjian Lama, yang terdiri atas 150 pasal.

3.     Kitab Injil : Kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa AS atau Yesus versi Nasrani, sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi Bani Israil, seperti Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 46 yang berbunyi : “Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan Isa Putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa”.
Isi pokok Kitab Injil adalah ajaran untuk hidup dengan Zuhud dan menjauhi kerakusan dan ketamakan dunia. Ini dimaksudkan untuk meluruskan kehidupan orang-orang Yahudi yang materialistis.

4.     Kitab Al-Quran : Kitab Al-Quran adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi terakhir yaitu Muhammad SAW sebagai petunjuk hidup umatnya. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang terbatas untuk satu kaum, Al-Quran tidak hanya diturunkan untuk Bangsa Arab, melainkan untuk seluruh umatnya. Permulaan turunnya Al-Quran adalah pada tanggal 17 Ramadhan Tahun 40 dari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Permulaan ayat Al-Quran yang turun adalah surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5. Firman Allah SWT :“Bacalah dengan (menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Sedangkan surat yang terakhir turun adalah surat Al-Maidah ayat 3. Firman Allah SWT : “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah K-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi Agama bagimu”.